Hal Terindah Untukmu, Ayah.

Aku melihat batu besar berdiri kokoh disana. Mengukir nama seseorang yang sangat kucintai, dulu hingga aku kembali bertemu dengannya esok. Langit mulai menghitam saat para pelayat mulai melangkahkan kembali. Menyisakan aku yang masih setia berdiri di samping batu besar. Air mata ku sudah kering karna tak kunjung keluar. Di otakku hanyalah berisi kepingan-kepingan kenangan tentangnya. Tentang hal yang selalu membuatku terus menerus mencintainya. Kenangan yang membuatku terus mengingatnya.

Kuputar lagi lagu klasik yang selalu diputar ribuan kali. Lagu klasik yang berisi tentang nasihat-nasihat semasa kecil. Aku tertawa saat salah satu liriknya menyelusup telingaku. Masih terasa hangat rupanya. Meski tak lagi sama.

Ingatanku mulai berkeliaran ke masa lalu seiring lagu ini mengalun. Masa dimana aku menjadi satu-satunya putri yang begitu beruntung memiliki seorang ayah sehebat dia. Aku masih ingat dengan jelas bagaimana ia dengan begitu hati-hati menguncir rambutku. Bagaimana ia begitu sabar mengajariku menaiki sepeda. Bagaimana tekunnya ia membimbingku agar menjadi wanita yang hebat esok. Aku selalu ingat bagaimana tutur bahasanya yang indah membuatku selalu ingin mendengarnya lagi, lagi dan lagi.

Ayah, sudah ribuan hari engkau memelukku. Mengajariku tentang bagaimana kerasnya hidup. Menuntunku kala rintangan menghadang langkahku. Menegurku saat aku terbuai oleh nikmatnya dunia. Mungkin engkau memang manusia paling dingin. Mungkin engkau memang manusia paling keras. Manusia yang begitu kokoh dan tegas. Tapi mungkin hanya akulah yang bisa merasakan bagaimana hebatnya kasih sayang seorang ayah yang melindungi peri kecilnya dari berbagai hal yang aku sebut, kejahatan.

Ayah, aku selalu bermimpi kau akan pulang dengan membawakan sebuah bintang. Aku selalu bermimpi kalau kau akan mendampingiku di setiap langkah yang kuciptakan. Aku selalu bermimpi bagaimana anakku kelak, akan memanggilmu Kakek. Dan bagaimana aku selalu bermimpi kalau engkau lah pelabuhan terakhir saat kapalku diterjang badai yang besar.

Janjiku, akan selalu kuingat bagaimana nasihat-nasihatmu yang selalu mengiringiku. Akan selalu kuingat bagaimana tawamu yang selalu menghias hariku. Dan akan selalu kuingat bagaimana harum tubuhmu saat kulekatkan seluruh jiwaku padamu.

Ayah, mungkin engkau datang bukan bersama bintang yang kupinta dulu. Mungkin engkau datang bukan dengan tawa yang kuhapal. Mungkin engkau datang bukan dengan kehangatan yang kau ciptakan. Tapi aku yakin, tawamu selalu sama, hangatmu akan tetap hangat, dan bintangku, telah tercipta diantara ribuan bintang yang selalu kulihat di malam hari, di jendela kamarmu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s