Hanya Senja

Bagian mana yang lebih perih dari rasanya patah hati? Merelakan apa yang pernah terjalin dan merasakan kehampaan yang sangat pekat didalam relung? Atau mencoba terisi namun sebenarnya kosong? Aku tidak tahu menahu tentang bagaimana rasanya patah hati. Hanya saja, aku sedang berusaha memahami apakah aku patah hati, atau hanya kecewa saja. 

Bagian mana yang akan dibenci jika terus menerus berlari dari permasalahan yang mencoba menghadapimu. Mengejar namun tak menemukan titik temu. Berhenti namun tidak pada tempatnya. Menghujam kalbu yang perlahan datang dan hanya mampir menyapa. Aku, dengan segala kebodohanku, melepaskan ia yang lebih sulit dari pola pikir fisikawan maupun ahli kimia. 

Aku memang bukan seseorang yang pintar menghitung aljabar. Mendeskripsikan sin cos tan, maupun memecahkan senyawa dan ion. Aku juga tidak bisa menghapal seluk beluk sel saraf manusia. Aku hanya seorang musisi yang berusaha sekuat tenaga, menghadirkan karya demi karya untuk mewujudkan apa itu impian. 

Dan dengan hadirnya ia disini, mampu membangkitkan angan demi angan yang kususun sedemikian rapihnya. Terbantu dengan jari mungil miliknya, setengah dari impianku terwujud. Satu persatu angan-anganku terealisasikan. Namun satu hal yang kuabaikan begitu saja. Impian miliknya. 

Selama 2 tahun belakangan ini, semua hanyalah tentang angan dan impianku. Ambisius ku tentang dunia musik telah membutakanku akan dunia miliknya. Dan bagian terhancur yang telah kubuat adalah, ia pergi. Tanpa pernah mengucapkan satu impiannya padaku. 

Dan ketika aku berusaha untuk kembali, mencoba berusaha untuk mewujudkan setiap impiannya, ia telah menemukan si pencipta impian lainnya. Ia dengan laki-laki yang tak kukenal. Laki-laki yang dapat mewujudkan impian gadis berambut panjangku dulu. Dan belakangan aku tahu, impian yang ia inginkan hanyalah satu. Ikatan janji di altar pernikahan. 

Kini, hanya senja yang dapat melihatku rapuh. Hanya senja yang tahu betapa bodohnya aku melepas angan yang mungkin akan menjadi bintang di masa depan. Hanya senja yang mengerti bagian mana yang paling sakit. Dan aku tahu, bukan hanya sepenggal angan yang kuinginkan. Namun si pencipta angan yang berusaha merealisasikan impian dengan segala harapan. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s