November, 15

Suara kertas robekan menggema di ruang yang ia sebut kenyamanan. Menggaung lembut diantara dinding-dinding kumal nan kusam. Ada berapa banyak hari lagi yang akan ia lalui. Seminggu kah? atau lebih dari 100 hari? Dapatkah ia terus bertahan diantara sesaknya pilu yang semakin hari semakin menggerogoti kalbu? Atau beranjak pergi kala hati tak lagi bisa menampung beribu untaian rasa?

Masih terlukis jelas diingatannya tentang bagaimana ia pergi. Perlahan-lahan meninggalkan jejak yang tak ingin berbekas di udara. Atau kepingan yang tak ingin tertinggal diantara ribuan angan. Masih tersisa debu-debu saksi yang mengikuti bagaimana indahnya masa-masa itu. 

Langit mulai memudar. Menebarkan warna jingga yang membuat hari mulai menghangat. Hari itu, dimana langit dengan warna yang sama, rengkuhan yang semula hangat, menjadi dingin dan tak terjamah. Menyebarkan perasaan asing yang tiba-tiba mendekap dua insan. 

 Deburan ombak tak membuat suasana hening yang tiba-tiba mencekam, meleleh. Menghanyutkan bongkahan es yang tiba-tiba saja berdiri kokoh diantara mereka. Membuat satu sama lain tak dapat menembus pintu kaca yang tercipta. Akankah suatu saat keca tersebut kembali mencair dan hilang? Atau selamanya akan terus seperti itu? Membuat jarak yang semula senggang menjadi lebih senggang. Membuat hati yang semula hangat menjadi dingin. Atau lebih dari itu semua. 

Kini, setelah serpihan yang semula kecil, menjadi sebuah bongkahan es, ia tak dapat lagi menjamah apa yang dulu pernah menjadi miliknya. Apa yang dulu pernah menjadi bagian darinya. Apa yang dulu pernah menjadi sebuah alasan untuknya. Dan sekarang, semua nya hilang. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang dulu sempat terbayang perlahan terjawab satu persatu. 

Bongkahan es yang mengahadang, kini semakin lebar dan semakin tinggi. Mencoba menghalangi upaya mereka untuk bersatu kembali. Entah keegoisan, kegengsian atau pula sebuah rasa tak nyaman. 

Ia menatap buku yang sedari tadi terbuka. Memperlihatkan sebuah lembaran foto yang tercetak dengan jelas bagaimana jingga bersinar dengan indahnya. 15 November. Hari dimana semua berakhir dengan indah. Hari dimana senja yang semula hangat, menjadi senja yang tak terjamah apapun. 

Mungkin sekarang ada senja lain yang singgah. Menyiratkan semburat jingga yang lain. Menggugah selera para penikmat senja dari penghujung waktu. Memikat kehangatan yang dulu berubah dingin. Ia tahu, semua tak kan pernah kembali seperti dulu lagi. Tak kan pernah kembali sebagaimana mestinya. 

Dinding kusam yang sedari tadi menatap-nya, kini menertawakannya. Apapun hal yang ia lakukan, akan selalu sama. Berpikir tentang segala hal, dan mencoba memperbaiki apa yang pernah ia lalui.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s