Tunggu Aku di Jakarta

Senja baru saja kembali menunjukkan kemegahannya kala kuikuti langkah ringanmu. Suara deru mesin kereta, tak membuat langkahmu berhenti. Juga pedagang asongan yang beberapa kali menghampirimu, dan menawarkan dagangannya. Beberapa kali juga kau menggelengkan kepalamu.

Langkahku tidak terasa ringan, juga tidak terasa berat. Ada satu hal yang kutahu saat kau memilih bangku di peron kereta daripada ruang tunggu. Bukan tempat yang tepat mengingat sebentar lagi, jejakmu akan tersapu dengan deru besi yang bergesekan dengan rel. Aku menghela napas saat kuikuti langkahmu menuju bangku itu. Bangku yang menjadi saksi bagaimana aku, mengiringi kepergianmu.

Masih kuingat saat jemarimu berhasil menyusup diantara jemari-jemari ku yang kecil. Seperti kehangatan yang menyelimuti dinginnya salju. Layaknya tungku hangat yang berkobar diantara ribuan air. Kehangatan yang selalu tercipta diantara dinginnya kulit. Aku tidak lagi bisa membayangkan bagaimana kehangatan itu akan pergi, dan hilang. Membawa serta rasa yang tak lagi membeku. Leleh. Tak lagi bisa mengeras.

Masih terngiang dengan jelas bagaimana perkataanmu kala itu. Tentang senja yang hangat. Tentang Jogja yang manis. Tentang Parangtritis yang misteri. Dan Malioboro yang magis. Aku selalu senang saat mendengar berbagai argumen darimu, tentang kotaku. Kota dimana aku tinggal. Kota dimana aku berada. Dan kota dimana kita bertemu.

Bagiku, Jogja bukan lagi tentang tempat kelahiran. Bukan lagi tentang kota dimana hanya ada turis-turis berpenampilan casual hanya untuk berlibur. Bukan lagi tentang para seniman yang rela jauh-jauh singgah, hanya untuk mendapatkan sebuah gagasan. Tapi Jogja, adalah sebentuk kehidupan yang tak lagi bisa kusingkirkan. Mungkin akan berbeda jika argumen tersebut keluar dari bibirmu. Kotaku, dan kotamu bukanlah kalimat yang sama pada bentuknya.

“Parangtritis itu misteri. Malioboro itu magis. Jogja itu manis.” Aku tahu bahwa kalimat yang ia buat, bukanlah sebuah puisi puitis yang ia ambil dari halaman buku karya penyair Chairil Anwar. Kata-kata itu murni dari pikirannya saat mata cokelatnya terus menatap sang senja. Rambutnya berkibar setiap kali udara berhembus.

“Perlukah kutanya apa maksudnya?”

“Misteri, saat ombak-ombak yang menyapu tepi pantai, menyiratkan rasa aman. Magis, saat keramaian berfungsi menarik, bukannya menghilangkan. Dan manis, saat perasaan yang bersarang, dapat berfungsi sebagaimana mestinya.”

Awalnya, kupikir ia hanya mengigau dan bergumam layaknya penyair yang kulihat di kelas suatu pagi. Kupikir kalimat yang ia lontarkan tidak pernah berakhir dengan suatu makna. Tapi kini aku mengerti. Bahwa setiap kata yang keluar, ada makna yang terlahir sebelumnya. Dia memang seniman. Seniman penyair. Meski tidak sehebat Taufiq Ismail maupun Amir Hamzah. Dia adalah dia. Dengan segala gagasan yang mungkin akan sedikit menggelikan. Namun ada kesan yang membuatku begitu mengagumi kalimat-kalimat yang ia susun.

“Senja itu hangat. Sehangat beludru tebal yang membalut kala hujan datang. Sehangat rengkuhan tubuh yang tercipta.”

Aku begitu menghargai tentang apa yang ia sebut sebagai privasi. Tentang bagaimana ia memandang sesuatu lebih dari yang ia tahu. Tentang bagaimana ia melewatkan malam sendiri di kos, saat sengaja kutelfon dan kudapati suara operator jaringan yang memberitahukan kalau ponselnya tidak aktif.

Dia punya mimpi. Begitu pula denganku.

Kita punya masa dimana kehadiranku, membawa angin sejuk untuknya. Juga saat dimana kehadirannya bagaikan musim gugur yang memberikan kehangatan untukku. Meski seringkali aku melangkah menjauh, daun-daun itu tetap berada pada tangkainya. Musim gugurku masih padanya. Dan yang kutahu, aku masih menjadi bagian dari angin sejuknya.

Aku bertemu dengannya di Jogja. Dan aku akan melangkah dengannya di Jakarta.

Hanya butuh 1 tahun sebelum aku benar-benar menata kehidupanku. Sebelum aku benar-benar siap meyakinkanmu, bahwa mimpiku benar-benar suatu hal yang patut kubanggakan. Tentang bagaimana aku menyelaminya, dan bagaimana aku menemukannya.

Jakarta, tunggu aku.

Suara pengeras suara membuat lamunanku tersadar kala itu juga. Disusul dengan suara deru kereta yang semakin dekat. Kutatap wajah laki-laki yang beberapa bulan belakangan ini selalu hadir. Wajah yang sebentar lagi hanya bisa kutatap dalam mimpi. Ia tersenyum padaku. Mengusap lembut pipiku sebelum akhirnya mendaratkan sebuah kecupan hangat di puncak dahiku.

Bisakah waktu kuhentikan sekarang juga? Agar kecupan ini tak berhenti secepat hitungan detik. Agar langkah yang membawanya kembali, dapat kupatahkan. Agar senyumnya yang selalu membuatku candu, tetap bertahan sebagaimana mestinya.

Aku akan rindu candanya. Aku akan rindu tawanya. Aku akan rindu argumen-argumennya. Aku akan rindu langkahnya, dan aku akan rindu hangatnya. Aku akan merindukan musim gugurku.

“Tunggu aku di Jakarta,” ucapku saat kecupan hangatnya, terlepas. Ia tersenyum dan mengangguk singkat sebelum merengkuh tubuhku dalam dekapannya yang hangat dan nyaman. Dekapan terakhir sebelum kehangatannya sirna.

Satu hal yang membuat es di mataku meleleh, ketika lambaian tangannya di jendela kereta, tak lagi terlihat. Layaknya malam yang tergantikan pagi.

Aku akan rindu musim gugurku. Aku akan selalu rindu, senjaku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s