Usai Disini

Senja yang kini hampir tenggelam, menggiringku kedalam sebuah kisah yang dulu pernah kutulis bersama lembaran-lembaran mimpi. Yang dulu pernah kulukis bersama hangatnya bingkai-bingkai foto yang tersimpan rapat di laci meja. Senja itu mengingatkanku akan hangatnya pelukan yang masih membekas di tubuh. Melemparku dalam nyamannya kata ‘Cinta’ yang kita ikat bersama. Memberiku aroma yang selalu kuhirup kala senyummu menghiasi hari-hariku.

Aku tersenyum kecut saat bayang wajahmu hadir di sela-sela senja yang masih mengintip. Masih bisa kudengar dengan jelas bagaimana kamu yang begitu semangat menyampaikan mimpi-mimpi yang akan kamu raih nantinya. Aku masih bertanya, apakah kamu sudah meraihnya atau belum. Mengingat perpisahan kita yang hampir satu tahun ini, masih menggerogoti kalbuku.

Aku hanya bisa membisikkan kata maaf saat air matamu mengucur deras bersamaan dengan hilangnya genggaman hangatmu. Bersamaan dengan hilangnya pelukan tubuhmu.

Masih melekat di pikiranku tentang pertemuan kita yang terakhir. Kamu, dengan jaket denim yang selalu kau kenakan, berjalan mendekatiku dengan wajah sendu. Kamu, mengatakan padaku kalau mimpi-mimpimu, terlalu jauh untuk kita raih bersama. Mimpi-mimpimu yang membuatmu begitu ambisius.

Terkadang, aku bertanya-tanya. Apa peranku di hidupmu, sehingga membuat mimpi-mimpimu begitu mustahil untuk kita lalui bersama. Lalu, bagaimana dengan mimpi-mimpiku, dan mimpi-mimpi kita?

Aku ingat saat kita menorehkan tinta kedalam kertas putih yang akhirnya menjadi sebuah tulisan yang berisikan mimpi-mimpi kita. Aku ingat saat kau begitu antusias untuk menjalani impian-impian itu pada suatu hari. Dan aku, percaya dengan semua mimpi-mimpi kita.

Lalu, kau hadir dan menghancurkannya. Mengatakan bahwa mimpi-mimpi kita adalah omong kosong yang tidak akan pernah terwujud. Bahwa impian-impian yang tlah kita ukir bersama, hanyalah sebuah impian semu yang hanya sementara. Lantas, untuk apa hadirku disisimu selain mewujudkan impian kita bersama?

Tawamu tak lagi seriang dulu. Tatapanmu tak lagi lembut. Sentuhanmu tak lagi menenangkan. Pelukanmu tak lagi hangat. Dan kecupmu, tak lagi membekas. Seharusnya aku tahu bahwa kamu, sudah jauh untuk kugapai. Sudah hilang diantara barisan-barisan rindu dan sayang yang selalu hadir disetiap kebersamaan kita. Kata cinta yang terselip, tidak lagi terdengar meyakinkan.

Mungkin, bukan aku si pemilik impianmu. Bukan aku yang akan berjalan disisimu saat salah satu mimpimu terwujud kelak. Bukan aku yang akan menopangmu saat terjatuh.Dan bukan aku lagi yang akan memperingatkanmu kalau didepanmu, ada batu besar yang menghalangi. Kini, kisah kita telah usai. Aku yang mengakhirinya.

Impian-impian dan mimpi kita, kukubur dalam kepingan cinta yang kusimpan rapat di relung hati. Memori tentangmu, kupendam dalam lempengan-lempengan rindu yang kubuat sendiri. Kini, kepingan dan lempengan itu akan kubuat benteng yang membuatku lebih kuat dan bertahan.

Bukannya aku menyerah dan memilih pergi, namun aku hanya ingin mimpi-mimpimu berjalan sesuai inginmu. Aku hanya tidak ingin, rasa cinta yang selalu ada untukmu, perlahan luntur dan hilang. Yang nantinya akan tergantikan oleh luka, perih dan kecewa. Impian dan mimpi kita, akan kuabadikan dalam setiap langkahku.

Kisah kita, usai disini. Bersama tenggelamnya matahari yang menggantikan senja menjadi gelap. Menggantikan mentari menjadi rembulan. Meskipun samar-samar, namun tetap terasa cahayanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s