Perbedaan Kita, Menyakitkan

Aku menatap punggung tegap yang tengah berjalan menuju bangunan Gereja tua yang terletak tak jauh dari Masjid Istiqlal. Aku tersenyum kala melihatnya menoleh dan melambaikan tangan padaku. Ada sebersit rasa sedih, marah, terutama kecewa. Mungkin perasaanku hanya mewakili apa yang ada dalam pikiranku. Mungkin aku kecewa saat melihatnya berjalan menuju Gereja, bukannya Masjid. Agar aku bisa menggenggam erat tangannya, seiring Adzan berkumandang.

Aku ingin melihatnya duduk di depan dan mengulurkan tangan untuk kucium setelah shalat berjamaah selesai. Aku ingin ia menegurku saat lafadz ku salah. Aku ingin ia duduk Masjid, dengan membaca dua syahadat.

Tapi aku tidak bisa. Dia dengan komitmen yang harus ia pegang teguh. Janji pada Tuhan yang harus ia lakukan dengan baik. Bukan dilanggar.

Air mataku mengalir saat kuingat topik pembicaraan yang terjadi beberapa hari lalu, membuatku tersadar akan kenyataan yang selama ini tak pernah kusadari, dan akhirnya kusesali. Aku ingat saat kau datang dengan wajah sendu, meski senyum kau torehkan disana. Kau mendekapku seakan aku akan hilang kala kau berkedip. Kau menghirup puncak kepalaku seakan aroma tubuhku akan lenyap tersapu angin. Kau mengecupku hangat seakan inilah kali terakhirnya kau mengecupku.

“Maafkan aku, Vi.” Itulah kata-kata pertama yang kau lontarkan setelah beberapa menit kau mendekapku. Kutarik tubuhku dan menatap bola mata coklat yang terlihat sendu dan tersesat itu.

“Aku tau. Semuanya tidak akan mudah, Nan.” Aku mengusap wajah nya yang terlihat begitu lelah. Aku tahu, ia pasti berpikir keras.

“Aku selalu memberimu mimpi-mimpi untuk kita wujudkan. Dan kita harus mewujudkannya, Vi.” Aku memeluknya. Menyalurkan tenaga untuknya.

“Kita berbeda Nan. Aku tau dari awalnya. Kita terlaku nekat. Inilah akibatnya. Tuhan, tidak akan mempertemukan kita kalau bukan kehendak-Nya. Percaya padaku, Ia selalu punya rencana dibaliknya.”

Dan hari itu tiba. Dimana Tuhan tak lagi membuat kami saling memiliki. Melainkan belajar. Belajar untuk merasakan bagaimana mengikhlaskan seseorang. Bagaimana perbedaan menjadikan kita lebih kuat.

Aku berjalan menuju Istiqlal untuk menunaikan Shalat Ashar. Sekilas, aku melihat mata coklatnya sebelum hilang di tengah-tengah keramaian Katedral.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s