Kembalinya sebuah alasan

Masih kuingat 1 tahun yang lalu saat bola mata cokelat itu masih menatapku dengan binarnya yang terang. Saat senyum yang terlukis di bibir kecilnya masih menyiratkan kelembutan. Saat jemarinya yang halus menyentuh kulitku dan sanggup membuatku tersengat walau barang sedetik. Saat rambutnya yang hitam membuatku ingin sekali mengusapnya dan membenamkan jemariku diantaranya.

Kini, bola mata cokelat itu telah sayu. Telah hilang dan aku tidak bisa lagi melihat pendar cahayanya. Senyum itu kini pudar digantikan garis lurus. Jemarinya yang halus menjadi dingin dan pucat. Rambutnya yang dulu halus, kini tak terawat. Sekali lagi, air mataku menetes. Bukan menangisi bagaimana itu semua terenggut dariku. Aku menangisi kebodohanku yang membiarkan semua terjadi padamu.

Suara monitor detak jantung terdengar begitu mencekam. Itu sudah menjelaskan bagaimana aku membenci diriku sendiri karna membiarkanmu berbaring tak berdaya disana. Membiarkanmu merasakan apa yang telah kupebuat selama ini.

Kugenggam lembut jemarimu yang dulu sehangat mentari, kini sedingin salju. Wajahmu yang putih bersih, sekarang pucat. Ingin aku berteriak dan menyuruhmu membuka mata. Ingin aku mengguncang tubuhmu supaya kau bangun. Aku tau, aku terdengar begitu menyeramkan saat ini. Tapi percayalah, aku ingin melihatmu kembali tersenyum.

Kuhirup udara yang terasa seperti menyesakkan karna aroma obat-obatan khas rumah sakit. Aku tidak tau bagaimana kamu bisa begitu tenang dan damai meskipun ruangan ini begitu mencekam. Bangun dan tersenyumlah. Kita bisa pergi dan keluar dari ruangan ini. Kutatap wajah pucat itu. Masih tenang dan seakan tidak ingin diganggu, aku melihatnya sedikit tersenyum. Sebelum hal selanjutnya, membuatku tersentak dan bangkit.

Kulihat beberapa orang berpakaian serba putih masuk keruanganmu. Dan aku menemukan tubuhku terhempas keluar ruangan. Mengingatkanku saat pertana kalinya aku melihatmu begitu kacau. Mengingatkanku akan hari dimana aku begitu bodoh. Mengingatkan bagaimana kamu terlihat begitu kecil dan hampir tak terselamatkan. Aku takut. Takut jika aku tak lagi bisa merengkuhmu.

Setengah jam. Satu jam. Satu setengah jam. Pria berkacamata itu keluar dari ruanganmu disusul dengan beberapa suster yang berjalan pergi melewati lorong sepi. Kutatap pria itu dan aku menerobos masuk untuk melihat keadaanmu. Satu hal yang kutahu pasti saat itu adalah, aku percaya takdir. Aku percaya kuasa Tuhan. Aku percaya apapun keajaiban.

Aku melihat senyum mentariku. Aku melihat mata coklat itu. Aku melihat jemari lembut itu melambai kearahku. Membentangkan tangannya seakan mengharapkan kehangatan dariku. Kuhampiri dirinya dan kurengkuh tubuhnya pelan. Takut kalau sentuhanku sanggup membuatnya hilang lagi.

Dalam hati, aku bersyukur. Berterimakasih pada Tuhan. Alasanku telah kembali, bersamaan dengan air mata yang menetes di bahunya. Air mata kelegaan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s