Tutuplah, dan jangan kembali! 

Sudah kedua kalinya aku menutup kedua telingaku saat sahabatku tak henti-hentinya mengomel. Hari ini hari minggu, dan pelajar sepertiku memang wajar berada di rumah sahabatku, bahkan menginap. Belum sempat aku turun dari tempat tidur dan mencuci muka, sahabatku satu itu sudah menghujaniku dengan serentetan kata.

“Kamu dengerin aku nggak sih, Cha?” Aku menguap panjang dan mengangguk lemas. Perutku terasa lapar karna semalam, setelah menangis di pelukan Tere, aku langsung tertidur dan melupakan makan malam.

“Re, aku laper.” Akhirnya, Tere menghentikan omelannya dan menatapku kasihan. Aku tersenyum kecil melihat Tere berjalan keluar dari kamar dan mengakhiri ceramah pagi hari ini. Kusingkirkan selimut tebal yang menutupi sebagian tubuhku dan bangkit untuk mencuci muka. Seperti dugaan, mataku bengkak dan ada lingkaran hitam dibawahnya. Wajahku terlihat pucat dari terakhir kali aku melihatnya.

Sekilas, aku teringat tentang laki-laki itu. Laki-laki yang sanggup membuatku menangis semalaman dan menciptakan lingkarang hitam beserta mata besarnya di wajahku. Sekali lagi, aku tertawa merutuki kebodohanku.

Bagaimana bisa aku jatuh cinta pada laki-laki yang bahkan sudah membuat hatiku remuk berkali-kali. Bodoh sekali mengingat aku selalu bertahan dan yakin jika ia akan datang dan menggenggam tanganku seraya mengatakan bahwa ia juga mencintaiku.

Tertawa saja tidak cukup untuk membodohi diriku sendiri.

Berkali-kali Tere mengingatkanku untuk tidak melangkah lebih jauh. Namun, aku bukanlah orang yang mudah sekali menerima pendapat orang lain, terlebih tentang hatiku. Maka dari itu, aku membantah. Menuruti keinginanku dengan terus berada di sana, sampai ia melihatku. Sampai ia tahu bahwa ada aku yang selalu mencintainya.

Bahkan kata bodoh saja tidak lagi puas menggambarkan tentang diriku.

Kusiram sekali lagi wajahku, bermaksud untuk mengusir bayang-bayang Bryan dari cermin. Namun bukannya pergi, bayang-bayang itu kembali datang dengan membawa berbagai kenangan. Ingin sekali kulempar sesuatu ke cermin itu dan menghentikan wajah Bryan. Keinginanku terhenti saat kudengar suara Tere dari luar dan menyuruhku untuk segera turun.

Bersyukur sekali karna aku berada di rumah Tere. Kalau saja aku menangis di dalam kamarku dan Ibu mendapati mata bengkak beserta lingkaran hitamnya, aku pasti akan diseret menuju klinik mata dan tidak akan diijinkan keluar rumah sampai mataku benar-benar kembali seperti semula.

Kuusap wajahku dengan handuk yang tergantung di samping westafel, sebelum melangkah keluar dan mendapati Tere tengah menatapku dengan tatapan buasnya.

“Jangan ngeliatin aku kayak gitu. Kamu sama kayak Ibu kalau udah ngeliat aku dengan mata bengkak begini.” Kuambil sisir dan mulai menyisirkan rambutku yang tak terbentuk menjadi lebih rapi.

“Ya, dan kamu harus bersyukur karna hari ini hari Minggu. Kalau saja bukan hari Minggu, mungkin kamu akan menangis lagi setelah melihat Bryan-mu itu terkapar.” Aku meringis. Ya, aku harus bersyukur karna Tere tidak melakukan hal itu pada Bryan. Aku tidak tahu harus bagaimana jika gadis itu membanting tubuh Bryan layaknya guling. Seperti saat aku melihatnya melayangkan tinju ke lawan pada Kejuaraan Karate tingkat Nasionalnya. 

Harus kuakui bahwa aku sangat berterimakasih pada Tuhan karna telah mengirimkanku sahabat baik seperti Tere. Kalau saja ia tidak ada, mungkin aku sudah gantung diri di jendela rumah. Ah, membayangkannya saja membuatku bergidik.

Aku ingat perkataannya saat gadis itu memeluk erat dan mengelus lembut rambutku. Bagaimana rasanya sehangat pelukan Ibu. Tere mengatakan bahwa ia memang tidak menyukai Bryan sejak awal, apalagi saat tahu bahwa aku jatuh hati pada laki-laki itu. Alasannya adalah, Bryan bukanlah laki-laki yang patut untuk disandingkan denganku. Selain karna ia terlihat sempurna untukku, Bryan juga bukan tipe laki-laki yang bisa berkomitmen pada satu perempuan.

Aku tertawa. Sudah lama aku juga berpendapat seperti itu. Tapi sepertinya, hatiku lebih memilih untuk tidak peduli tentangnya. Tidak peduli betapa jahatnya dia. Tidak peduli betapa mudahnya ia mendapatkan hati lalu dipatahkan dan pergi. Pergi. Ya dia perg, meskipun di kasusku tidak ada satu pihak yang pergi dan ditinggalkan.

Aku yang terlalu bodoh untuk menaruh harapanku kepadanya. Aku yang terlalu percaya pada apapun yang hatiku buat sendiri tentangnya. Aku tidak pernah melihat dimana sisi baik nya dan dimana sisi buruknya. Hanya beberapa dan aku mencoba tidak peduli. Tuhan, jika memang jalan terbaikku adalah melangkah mundur dan berbalik, aku siap.

Aku siap untuk menutup tanpa perlu melihat lagi. Tere sudah memperingatkanku: Tutuplah! Dan jangan pernah kembali! Lukamu lebih penting daripada dia. Jangan biarkan dia mengobrak abrik hatimu, lalu pergi begitu saja untuk menambah luka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s