Terulas Kembali

Ada hati yang kembali tenang saat kereta yang membawaku dari Jakarta, tiba di stasiun Tugu Yogyakarta. Kilasan-kilasan memori kembali menyerangku dan membawaku pada 5 tahun silam. Dimana semua yang kupunya, bisa meremukkan dalam sekejap. Kilasan memori tentang kisah pahit kehidupan, kisah manis percintaan dan kisah-kisah yang sampai sekarang masih belum kuakhiri dengan baik.

Aku pergi dengan meninggalkan berbagai keputusan yang rumit. Aku meninggalkan kehidupan yang masih hancur. Dan aku meninggalkan hati yang masih hancur, meski aku tidak tahu apakah sudah ada penawarnya, atau belum. Kini, aku kembali. Setelah merasa siap untuk kembali mengatasi semuanya. Aku tahu, aku terlambat. Cukup terlambat untuk memperbaiki semua.

Kulangkahkan kakiku menuju halte busway yang akan mengantarkanku pada sebuah rumah yang selama setengah hidupku, menemaniku. Aku ingat bahwa aku telah sangat berdosa karna pergi begitu saja meninggalkan kedua orang tuaku dengan segala macam kemarahan yang masih tersulut.

Kutatap rumah kecil dengan aksen Jawa yang terlihat begitu sederhana. Masih ada keraguan dan ketakutan yang sejak tadi sudah kulawan beberapa kali. Aku tidak tahu lagi bagaimana menghadapi ini semua. Kembali lari, dan masalahku tidak akan pernah terselesaikan. Dan hidupku? akan kembali dipenuhi perasaan bersalah seperti di Jakarta. Atau melanjutkan langkahku memasuki rumah tersebut, dan bersiap bahwa apapun yang akan kuhadapi nanti, aku siap. Entah itu makian, tamparan atau apapun itu, aku siap dan aku yakin.

Kuhembuskan napasku dengan pasti dan kulangkahkan perlahan memasuki pekarangan rumah, sebelum akhirnya kuketuk pintu yang tertutup secara perlahan. Aku bisa mendengar suara kaki yang melangkah dan kunci yang dibuka. Seperti dugaanku, aku melihat Ibu dengan kebaya yang selalu ia gunakan, dan rambut yang disanggul acak-acakan. Detik itu juga, aku bersujud dan mencium kedua kakinya. Mengucapkan kata maaf beribu kali. Ibu yang sadar bahwa itu aku, menepuk punggungku dan menarikku supaya aku kembali berdiri.

Air mataku kembali turun. Wanita paruh baya di hadapanku ini mengelus kedua pipiku dengan air mata yang berlinang. Setelah meyakinkan bahwa itu aku, Ibu menarikku untuk merasakan pelukan hangatnya yang dulu selalu ia bagi denganku dan adikku. Dikecupnya keningku saat kudengar suara orang batuk dari dalam. Kuhentikan tangisku dan mencoba untuk menatap Ibu.

“Bapak dimana bu?” tanyaku parau.

“Ada di dalam,” jawabnya sembari menuntunku ke sebuah kamar yang ada di samping kamarku dulu. Aku melihat seorang laki-laki yang berbaring, dengan punggung bersandar di dinding.Tangan kanannya berada di atas dada, sedangkan tangan kirinya berada di atas perut. Kuhampiri Bapak dan kuciumi tangannya sembari mengatakan maaf. Aku begitu menyesal dan berdosa karna meninggalkan kedua orang tuaku, hingga mereka tua seperti ini.

“Akhirnya kamu pulang. Bapak nungguin kamu pulang. Ibu nangis terus karna kamu nggak ada kabar selama 5 tahun. Kamu kemana to le?” tanya Bapakku yang membuat tangisku semakin menjadi.

“maafin Tyo pak. Tyo udah pergi saat bapak nggak ngasih ijin ke Tyo. Tyo tau Tyo anak durhaka buat Bapak sama Ibu. Tyo minta maaf pak. Tyo pulang karna Tyo sudah tau bagaimana kerasnya kehidupan. Dan alhamdulillah, Tyo berhasil pak.” Kurasakan tangan Bapak menarikku dan memelukku. Hatiku teriris saat kusadari bahwa Bapak dan Ibu sudah lebih tua dari yang kubayangkan.

“Bapak maafin kamu le. Tapi kamu jangan pergi lagi ya.” Aku mengangguk. Dan hilanglah sudah semua ketakutan dan keraguanku. Permasalahanku dengan kedua orang tuaku, telah membaik. Sekarang, hanya satu permasalahanku yang harus kuselesaikan kembali.

Aku mendapat informasi bahwa pementasan di keraton akan diselenggarakan pukul 4 sore. Pakde, selaku abdi dalem keraton, mengijinkanku untuk mengikuti jalannya pementasan karna bersifat khusus. Aku pergi bersama adikku, Haryo, menggunakan motor yang Haryo pinjamkan dari salah satu temannya. Alasanku pergi karna aku harus menemukan seseorang. Seseorang yang dulu sempat aku miliki, sebelum aku memutuskan untuk pergi dan kembali setelah 5 tahun tanpa kabar.

Gerbang utama keraton di tutup dan aku masuk dari gerbang samping. Pakde menyuruhku untuk langsung ke panggung pementasan dan duduk disalah satu bangku penonton. Ternyata pementasan telah dimulai dan para penari sudah berdiri di atas panggung. Kulihat satu persatu dari mereka saat tatapanku tertuju pada seorang wanita berparas ayu, berdiri di samping kanan. Aku menyadari betapa aku sangat merindukan wajah itu. Rindu akan tawanya, suaranya, sentuhannya dan semua yang ada pada dirinya. Aku merindukan akan hadirnya ia dalam hidupku.

Pementasan berlangsung sekitar 1 jam. Aku meminta ijin pada Pakde untuk menemui wanita itu. Aku diberi petunjuk oleh Pakde yang merupakan tempat istirahat para penari. Saat kulangkahkan kakiku, kulihat ia sedang berjalan keluar. Busana tari yang ia kenakan sudah tak terlihat di tubuhnya. Polesan make up juga sudah dihilangkan.

“Ningsih,” panggilku membuat langkahnya terhenti. Terkejut, itulah ekspresi yang ia lontarkan saat melihatku berjalan mendekatinya. Kulihat ia mematung dan tidak bisa mengatakan apa-apa. Aku menyesali perbuatanku selama ini karna sepertinya ia begitu tersiksa dengan keadaan yang aku lakukan.

“Mas Tyo?” Aku sedikit lega karna bisa mendengar suaranya kembali. Meski begitu, aku sedikit kecewa karna ia lebih memilih membagi jarak daripada berdekatan denganku.

“Ningsih, apa kabar?” Ah, sepertinya aku harus diberi satu buah pukulan tepat di kepalaku. Bagaimana bisa selama 5 tahun ini aku berusaha mencari kata-kata permintaan maaf padanya, dan hanya kabar yang kukeluarkan.

“Maaf Mas aku harus pergi,” ucapnya cepat. Namun aku berhasil menahannya dan membuatnya kembali terdiam.

“Maafkan aku Ningsih. Aku tidak bermaksud meninggalkanmu tanpa kabar. Aku hanya..aku..”

“Sudahlah Mas. Tidak ada yang perlu disesali dan disalahkan. Kalau kamu mau menyalahkan dirimu, salahkan saja aku tidak peduli. Aku lelah menunggu sesuatu yang tak pasti sepertimu Mas. Aku terlalu lelah menunggumu selama 5 tahun tanpa keterangan apapun. Berkali-kali aku memastikan bahwa kamu akan kembali dan saat aku membuka pintu, kamu ada di depan seperti biasanya. Tapi aku sadar kalau semua itu hanya khayalanku saja. Kamu pergi tanpa bilang apa-apa padaku, bahkan hubungan kita saja aku tidak tahu. Apakah kita selesai atau kita ini..sudahlah mas aku lelah. Aku mau pulang.”

Kutahan sekali lagi lengannya. “Aku tahu aku salah. Aku yang harusnya disalahkan. Tapi aku mohon, beri aku waktu untuk memperbaikinya. Beri aku satu kesempatan lagi, Ningsih.” kulihat air mata yang ia tahan telah turun di kedua pipinya.

“kalaupun aku bisa, tetap tidak akan Mas. Meskipun aku masih cinta kamu, aku tidak bisa. Aku sudah punya kehidupan lain setelah kamu pergi tanpa kabar. 5 tahun bukanlah waktu yang sebentar untukku diambang ketidakpastian. Maafkan aku mas, aku sudah memiliki calon suami.” Dan seketika, duniaku hancur. Seperti api yang telah berkobar dan akan menjadi abu. Semuanya selesai. Semuanya terlambat. Aku kembali dan Ningsih pergi. Secepat itu roda berputar.

“Mas Tyo, maafkan Ningsih. Ningsih harus pergi.” Aku menghembuskan napas berat sebelum akhirnya mengangguk. Sebelum ia pergi, Ningsih memberikan kecupan di pipi kananku sebagai tanda perpisahan. Dan saat aku menginginkan kecupannya lagi, ia telah pergi. Kilasan memori yang kuingat dengannya, terulas kembali dan hanya membawa perih di hati. Haryo menghampiriku dan membawaku pulang.

Rencana melamar Ningsih dan membawanya kembali ke Jakarta,tidak akan pernah terwujud. Kesalahan ku telah fatal, dan aku sedang menikmati akibatnya. Yang tersisa hanyalah kerinduan, kekecewaan dan kebodohan. Kini, kutinggalkan semua memori yang kusimpan rapi di Jogja. Kubawa keluargaku ke Jakarta dan kehidupanku yang lebih baik disana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s