Senja dan Gadis Pendet

Hari menjelang pagi saat aku tiba di Dermaga Pelabuhan Benoa, Bali. Kulirik jam dan menunjukkan pukul setengah 5 WIB yang artinya pukul 6 WIT untuk daerah Bali. Aku menjinjing tas punggungku dan berjalan keluar kapal. Udara masih sejuk dan matahari masih bersembunyi di balik awan-awan putih yang bergerak perlahan. Aku melangkahkan kakiku untuk mencari kendaraan umum yang akan membawaku ke sebuah desa yang akan aku tinggali.

Selama liburan, aku telah membuat janji dengan seorang teman yang kebetulan asli Bali dan ia menerimanya dengan senang hati. Setelah mengatakan nama Desa yang kutuju, sopir kendaraan umum itu mengangguk dan kembali fokus dengan jalanan. Udara sejuk dan hawa dingin pulau Bali membuat hati dan pikiran kembali tenang saat hiruk pikuk kota Jakarta masih terasa di sekitarku.

Aku mengetuk pintu berkayu coklat tua setelah beberapa meter berjalan. Kulirik kertas yang bertuliskan nama Desa Panarukan dengan nomor rumah yang tertera di dalamnya. Aku mengamati rumah sekeliling. Semuanya masih terlihat tradisional. Beberapa kulihat bangunan seperti pura dengan wejangan wewangian di dalamnya. Khas Bali. Pintu terbuka saat kulihat setangkai bunga kamboja jatuh ke pelataran pura yang terletak beberapa meter dari teras rumah.

“oh Kafka, kamu sudah datang, ayo masuk.” Aku mengangguk dan melangkah masuk ke rumah asli penduduk Bali. Di dalamnya hanya terdapat beberapa perabot rumah dan semuanya terlihat begitu tradisional. Kadek-rekan kerjaku di Jakarta sebelum memilih untuk pulang kampung-datang dengan membawa dua cangkir berisi teh hangat dan menghilang kembali bersama tas ku. “Bagaimana perjalananmu? Menyenangkan?” tanyanya sembari duduk di hadapanku.

“Belum. Masih banyak yang harus kulihat disini,” jawabku sembari meneguk teh hangat yang membuat suhu tubuhku kembali normal karna udara begitu dingin.

“Lalu, apa rencanamu berikutnya?” tanya Kadek. Aku meletakkan cangkir tehku dan memusatkan perhatianku pada Kadek.

“Mungkin berkeliling dan kembali saat matahari mulai terbenam. Sepertinya kuawali dengan pergi ke Sanur atau Pandawa. Harusnya mereka berdua, tapi kusimpan untuk rencana selanjutnya,” jawabku membuat Kadek tertawa.

“Kamu harus mampir ke Uluwatu untuk melihat pertunjukkan Kecak dan sepertinya Pendet akan ikut ditampilkan.” Aku mengangguk setuju. Rencanaku bertambah untuk sore harinya. Akupun permisi untuk membersihkan diri sebelum pergi ke tempat pertama.

Langkah pertamaku adalah menuju pantai Pandawa sebelum berlanjut ke Tanah Lot. Kamera sudah siap di tangan kiriku. Memakan waktu sedikit lama untuk sampai di Pandawa dengan para turis-turis yang mengabiskan waktu liburan, sama sepertiku.

Aku harus setuju saat mendengar orang-orang mengelu-elukan keelokan pantai Bali. Terutama Pandawa. Aku terkesima saat turun dari kendaraan dan berjalan ringah di tepi pantai dengan ombak yang sanggup menelan orang hidup-hidup. Aku mengabadikan setiap momennya dengan kameraku saat sebuah objek tak sengaja kudapatkan. Kulihat hasil tersebut dan mendapati seorang wanita dengan kaus hitam dan kain khas Bali di bawahnya. Setelah puas melihat hasilnya, kulirik wanita tersebut yang ternyata sudah tidak berada di tempatnya. Kulihat ia berlari menuju jalan besar dan menghilang di antara kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang.

Tujuanku selanjutnya adalah Tanah Lot. Seperti kebanyakan pura-pura di Bali, Tanah Lot merupakan pura yang terletak di pantai. Jika ombak pasang, terpaksa hanya bisa melihat dari kejauhan. Dan jika ombak sedang surut, mungkin akan lebih baik jika mengunjungi langsung pura tersebut. Untuk sekarang, aku cukup bersyukur karna ombak tidak sedang pasang.

Aku mengambil objek beberapa kali saat kudengar seorang pemandu beserta rombongannya yang mungkin terdiri dari 100 orang, berjalan di belakangku. Perhatianku tertuju pada suara pemandu tersebut dan ingin sekali aku masuk ke dalam rombongan dan terus mendengar suara khas Bali itu. Mungkin sikapku akan terlihat begitu tidak sopan mengingat aku berjalan samar-samar di samping rombongan dan diam-diam mengambil gambar mereka. Tapi satu yang membuatku begitu ingin mengikuti mereka. Suara Pemandu Wisata.

Rombongan tersebut berpencar dan aku kehilangan pemandu wisata tersebut. Kuedarkan pandanganku dan tertuju pada seorang wanita yang berdiri tegak di salah satu batu besar dan sepertinya sedang menikmati alam. Kuambil gambarnya dan aku baru ingat kalau wanita itu adalah wanita yang ada di pantai Pandawa tadi. Tanpa banyak berpikir, kuhampiri dirinya.

“Permisi,” sapa ku membuatnya menoleh dan melemparkan senyum padaku. Kuulurkan tanganku dan berharap bahwa dia akan membalasnya. Senyumanku melebar kala kurasakan kulit lembut yang menggenggam tanganku.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya ramah dan melepaskan genggaman tanganku. Aku tersadar dan buru-buru mencari topik yang bisa kudapat darinya.

“Berapa hari rombongan tersebut memakai anda?” tanyaku sembari menunjuk salah satu orang yang tadi kulihat ikut dalam rombongan wanita ini.

“hari ini juga selesai. Mereka hanya perlu menghabiskan waktu disini, dan waktu saya habis,” jawabnya ringan dan ramah. Lagi-lagi aku terbuai dengan suara Bali nya yang khas dan merdu.

“kalau ingin memakai jasa pemandu wisata, apa harus berombongan?” wanita itu berpikir sejenak sebelum akhirnya menggeleng. Membuatku harus tersenyum lebih lebar karna sebuah rencana melintas di benakku. “bagaimana jika saya menginginkan jasa tersebut? dari anda?” tanyaku membuatnya berpikir sejenak, sebelum akhirnya menggeleng.

“maaf, tapi untuk hari ini saya tidak bisa. Waktu kerja saya habis.” Untuk pertama kalinya, aku merasa kecewa karna sebuah penolakan. “tapi jika anda bersedia menunggu sampai besok, saya usahakan bisa,” lanjutnya dan senyumku kembali merekah. Kuambil selembar kertas yang kubawa di dalam tas kecilku dan mengulurkan padanya.

“bisa saya dapat nomor ponsel anda? mungkin untuk menginformasikan waktu dan tempat kita bertemu.” kulihat ia mengambil kertasku dan menuliskan sederet angka yang membuatku begitu senang melihatnya. Ingin sekali aku berbicara banyak padanya dan mendengarkan suara lembut nan halus khas Bali miliknya. Namun, aku harus menekan hal tersebut sampai besok saat salah satu rombongannya tadi, memanggilnya dan menyuruhnya untuk ikut. Ia tersenyum sebelum akhirnya pamit.

Hari menjelang sore saat aku sedang dalam perjalanan menuju Uluwatu. Sesuai saran Kadek tadi pagi, aku berangkat lebih awal supaya bisa melihat pemandangan terlebih dahulu, juga mendapatkan tempat yang strategis sehingga aku bisa mendapatkan objek yang baik. Tribun penonton sudah hampir penuh ketika kulirik jam menunjukkan pukul 5 petang. Dan pertunjukkan akan dimulai sekitar 30 menit lagi.

Turis-turis mancanegara terlihat memenuhi tribun dengan menjinjing kamera digital maupun ponselnya. Satu persatu penari keluar dan aku harus turun karna objek dari tempatku duduk tidak begitu bagus. 10 menit belalu. Para penari terus berlanjut saat kulihat seorang wanita keluar dengan pakaian tari Pendet yang begitu melekat, membuatnya terlihat begitu indah dan istimewa. Aku mencoba mendekat saat ia berdiri tak jauh dariku. Mengambil gambarnya dan tersenyum puas karna objekku terlihat 2 kali lebih indah didalam foto.

Kulihat kembali hasil gambarku saat sebuah wajah yang tak asing membayangi pikiranku. Wajah penari tersebut, membuatku mengingat seseorang. Seseorang yang belum lama ini kuketahui karna memang aku hanya mendapat nomor ponselnya. Teringat sesuatu, aku mengambil kertas yang berisi deretan nomor dan membacanya. Aku melihat sebuah nama sebelum deretan angka terlihat. ‘Ni Putu Ayu Suasti’. Dan aku yakin, penari tersebut adalah pemandu wisataku esok. Aku juga sadar, jika aku memang tertarik padanya. Tertarik akan kelembutannya, suaranya, dan gerakan menarinya.

Saat pertunjukkan berakhir, langit sudah mulai gelap. Kulihat wanita itu masih berdiri disana bersama beberapa penari lainnya. Setelah memberikan penghormatan terakhir, semua penari berbalik dan menghilang dari panggung pementasan. Sebelum wanita itu ikut menghilang, kuhampiri dirinya dan membisikkan sesuatu di telinganya. “hey, bisa aku meminta waktumu sebentar?”

Kulihat ia sedikit terpekik karna kaget. Aku menyesali perbuatanku yang membuatnya nyaris ketakutan. Namun sepertinya ia bisa memaklumi karna hal selanjutnya adalah aku dan dia duduk di tribun penonton meskipun hari sudah gelap dan pengunjung mulai meninggalkan Uluwatu.

“anda-”

“bagaimana jika panggilannya diganti aku dan kamu? Kulihat umurmu tidak jauh berbeda denganku,” potongku cepat yang dibalas tawa olehnya. Aku ikut tertawa. Satu hal lagi yang kusuka darinya, tawanya.

“kamu laki-laki yang tadi bertemu denganku di Tanah Lot, bukan? Disini juga?” tanya nya membuatku mengangguk dan tersenyum malu.

“Jadi, alasan kenapa hari ini kamu tidak menerima jasa karna kamu ikut pementasan disini?” tanyaku membuatnya mengangguk. Harus kuakui bahwa aku senang karna bisa berbicara banyak dengannya.

“jadwalku pentas tepat hari ini. Kurang lebih, selama sebulan tigakali aku ada disini untuk pementasan,” jelasnya. Ada yang menggelitik di perutku saat kulihat matanya yang hitam. Ternyata ia punya wajah yang ayu. Dengan bulu mata yang panjang dan lentik, alis mata yang tebal dan bibir tipis yang diolesi lipstik merah. Meskipun ia cantik dengan memakai polesan, tapi aku tetap lebih suka ia tanpa make up. Seperti siang tadi.

“Aku suka gerakanmu. Begitu lembut dan terkesan begitu indah. Aku bersyukur karna mendapat beberapa gambarmu,” ucapku sembari mengangkat kamera yang menampilkan wajahnya yang tersenyum. Ia tertawa.

“Kamu orangnya ramah dan suka bergaul ya? Adaptasi mu begitu baik,” komentarnya terhadap sifatku. Aku tertawa mendengarnya. Berpikir apakah itu baik untukku merajut hubungan dengannya atau buruk karna ia tidak suka laki-laki sepertiku.

“Aku begini kepada semua temanku. Kecuali-” aku menggantungkan perkataanku dan menatapnya tepat di bola mata. Untuk beberapa saat, jantungku tidak henti-hentinya menabuhkan drum dengan begitu keras. Bahkan aku sempat takut kalau ia bisa mendengarnya. Aku melihat wajahnya yang seperti menungguku untuk melanjutkan perkataan. “Aku Kafka Abimanyu,” lanjutku membuatnya kembali tertawa dan mengangguk.

“Aku bahkan lupa menanyakan namamu.”Aku ikut tertawa.

“Ayu, boleh aku panggil Ayu?” tanyaku membuatnya berhenti tertawa. Ia menimbang sebentar sebelum akhirnya mengangguk. “Ni Putu Ayu Suasti, boleh aku mengatakan sesuatu?” tanyaku lagi yang lagi-lagi membuatnya tertawa sebelum akhirnya mengangguk.

“Tiang tresna teken ida, Ayu.” Mungkin ini terlalu cepat saat kulihat tubuhnya membeku dan tidak mengatakan apapun. Seharusnya aku tahu kalau setelah ini, mungkin aku akan kehilangan pemandu wisata sekaligus wanita yang membuatku jatuh hati pada Bali. Aku baru saja akan meminta maaf saat wanita itu tersenyum dan meraih tangaku.

“Tiang tresna teken adi, Kafka.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s