Benteng Kehidupan

Garis kehidupan telah dilukis meskipun beribu kali aku menolak dan mengatakan kalau ini semua tidaklah adil. Bagaimana bisa orang-orang dengan mudahnya mengeluarkan uang dan membuang apa saja yang tidak ia butuhkan. Sedangkan aku, mendapat sisa dari orang-orang terpandang saja sudah bersyukur.

Kalau mereka bertanya, apakah aku iri dengan para pekerja kantoran yang hanya duduk diam menikmati hembusan mesin bernama AC dan mendapatkan uang di akhir bulan, sedangkan aku harus berkeringat, menerjang panasnya matahari, dan harus berteman dengan debu supaya mendapatkan sesuap nasi, aku menjawab ‘Ya’.

Kehidupan kota Bandung yang semakin malam semakin ramai membuatku harus kembali turun supaya mendapatkan uang. Kalau ada yang bertanya kenapa aku tidak bekerja saja, aku hanya bisa menjawab ‘bagaimana bisa mereka mendapatkan pegawai yang asal-usulnya hanya seorang pengamen jalanan. Dan tanpa surat kelulusan apapun.’

Ada sebuah area yang dibuat untuk para pedagang kaki lima. Persis seperti malam minggu biasanya, para warga Bandung yang ingin menghabiskan malam minggu di luar bersama orang terdekatnya, berbondong-bondong untuk mendapatkan hidangan yang lezat namun harga yang terjangkau. Aku memetik senarku dan mulai menyanyikan lagu yang ingin kunyanyikan.

Sampai seseorang berdiri di sampingku dengan senyum lebar dan mata yang berbinar. Tadinya aku tidak mengerti apa yang ia perbuat, namun saat ia menuntunku ke tempatnya dan teman-temannya duduk, aku tau kalau dia ingin aku bernyanyi. Kukeluarkan suaraku dan kunyanyikan sebuah lagu milik om Iwan Fals yang dulu sempat meledak di tahun 90-an. Gadis itu duduk di dekatku. Menatapku dengan penuh minat. Aku tau karna sesekali kulirik dia dan tatapannya masih terpaku padaku.

Lagu berakhir dan aku mengucapkan terimakasih. Menanti uang yang akan mereka berikan karna telah menyuruhku menyanyi. Namun, sebuah suara membuyarkanku dan membuatku berpikir kalau ia bukan hanya tertarik pada suara maupun permainan gitarku.

“Bisa kamu menyanyikan satu lagu lagi untukku? Supaya kamu tidak pergi,” ucapnya yang disambut sorakan teman-temannya dan ejekan yang mungkin menurutku begitu menjengkelkan. Tapi tidak baginya, ia terus menatapku seperti aku akan menuruti permintaannya hanya dengan tatapannya. Aku pun menurutinya dan mulai memetik senar. Ingin menyanyikan lagu yang mungkin akan membuatnya bosan. Namun, sebelum aku menyanyikan lagu tersebut, gadis itu menyela dengan menyebutkan salah satu judul lagu.

“Pelangi di bola matamu.” Kupikir dia sedang jatuh cinta dengan seseorang yang membuatnya menyuruhku menyanyikannya. Sorakan teman-temannya kembali terdengar setelah beberapa saat mereda.

2 menit kemudian aku selesai bernyanyi dan sorakan tepuk tangan terdengar dari teman-temannya. Ia hanya tersenyum dan terus menatapku. Aku hanya tersenyum canggung karna baru pertama kali ada seorang gadis menatapku seintens itu.

“Kamu selalu disini?” tanyanya dengan suara yang sedikit pelan. Teman-temannya masih berisik, mengobrol sana-sini sehingga tidak mendengar percakapan kami. Kantong topiku telah terisi dengan berbagai uang. Aku bangkit sebelum akhirnya mengangguk. Kulangkahkan kaki untuk menjauh dari kerumunan orang-orang berada tersebut meski masih bisa kurasakan tatapan milik gadis tadi.

Seharusnya aku tau kenapa kemarin malam ia menanyakan padaku apakah aku selalu disini atau tidak. Dia sengaja datang kesini karna tau aku selalu disini. Setidaknya itulah argumen pertamaku tentangnya.

Aku menghampiri meja kecil yang hanya terisi sebuah keluarga kecil. Menyanyikan lagu yang membuat semangat. Malang sekali karna hari ini bukanlah malam minggu dan area itu tidak begitu ramai seperti kemarin malam. Pendapatan yang kudapat tidak akan sebesar kemarin.

Gadis yang kemarin, melangkah mendekat saat kutegapkan punggungku untuk berpindah tempat. Ia mengikutiku kemanapun aku berjalan. Sampai tangan halusnya menarik kulit lenganku yang kasar. Aku berhenti. Menatap bola mata berwarna coklat pekat dengan bulu mata yang lentik dan panjang.

“Boleh aku ikut kamu ngamen?” tanya gadis itu. Aku mengerutkan kening. Bingung kenapa gadis yang mungkin punya banyak uang dan tidak perlu terjun bebas ke jalanan untuk sesuap nasi, ingin menemaninya ngamen. “Namaku Indah.”

“Kamu tidak butuh uang,” ucapku dan pergi meninggalkannya. Namun aku tahu kalau ia adalah gadis yang keras kepala. Dia berjalan tenang di sampingku dengan sesekali melirik kearahku. “Untuk apa mengamen kalau uang saja kamu sudah punya.”

“Uangnya bukan untukku. Bisa kita bagi dua. Uangmu untuk kebutuhanmu dan uangku untuk kebutuhan anak-anak. Adil bukan?” Aku berhenti. Menatap wajah ayu tanpa polesan warna apapun.

“Anak-anak? Apa maksudmu anak-anak?” tanyaku. Indah melirik ke sebelah kanannya sebelum menunjuk segerombol anak-anak jalanan yang sedang memakan sebungkus nasi rames sisa. Aku terdiam.

“Kamu mengijinkan?” Mungkin aku sedikit terharu melihat betapa pedulinya ia pada anak-anak yang terlihat mengotori kota Bandung. Aku mengangguk dan memberikan kantong topiku padanya. Kubiarkan ia berlari kecil menuju warung makan yang terlihat lebih ramai dari warung-warung yang sudah kudatangi.

Kupetik senar gitar dan Indah bernyanyi. Sesekali aku menanggapi dan layaknya artis papan atas, kami berduet. Sejak saat itu aku mulai dekat dengan Indah karna setelah ia pulang dari kampus, ia selalu membawa nasi bungkus untukku dan beberapa anak jalanan sebelum akhirnya mengikutiku ngamen. Aku juga sudah tau selera musik Indah yang lebih jadul dariku. Bahkan dia lebih suka Godbless ketimbang Sheila On 7 ataupun Dewa 19.

Aku juga mulai mengenal dirinya. Dari ia mengambil jurusan hukum di Universitas Padjajaran sampai cita-citanya yang ingin meneruskan S2 di Inggris. Meski begitu, aku tidak pernah menyinggung tentang informasi paling pribadi darinya, seperti apakah ia sudah berpasangan, dimana ia tinggal atau bagaimana silsilah keluarganya. Yang aku tau hanya Indah adalah seorang gadis yang peduli dengan lingkungan-lingkungan kotor milik anak jalanan.

Dengan segala kepeduliannya, keramahannya dan berbagai hal yang membuatnya begitu baik, mau tak mau membuatku terkagum. Dan dengan begitu, tanpa sadar aku telah jatuh kedalam perasaan yang dinamakan cinta. Aku harus selalu sadar bahwa Indah bukanlah wanita yang pantas kusandingkan. Indah jauh lebih berhak mendapatkan laki-laki yang setara dengannya.

Sampai disuatu siang, aku memutuskan untuk mundur dan melepaskan apa yang telah kugenggam dengannya, ketika ia datang dan mengatakan bahwa ia juga mencintaiku. Kujelaskan padanya dan hanya air mata yang menemaninya.

“Kehidupanku berat, Indah. Kamu nggak akan bisa kalau sama aku. Percayalah, ada yang lebih baik dari aku dan aku yakin, kamu akan segera melupakan aku.” Dengan begitu, aku sudah menyelematkan kehidupan normalnya dari beban berat kehidupanku.

“Mungkin kita akan bertemu lagi. Suatu hari nanti atau mungkin beberapa tahun lagi. Aku sangat berterimakasih padamu, karna kebaikanmu untuk anak-anak. Terimakasih, Indah. Aku harus pergi, Sampai Jumpa.”

Dan benteng kehidupanku kembali kokoh untuk menopang kehidupan yang akan datang. Kenanganku dengan Indah, akan menjadi unsur-unsur di dalam bentengku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s