Dia dan Rahasiamu

Aku melangkah pelan di sebuah sudut jalan. Mengingat kembali kilasan memori yang semakin lama, semakin sering hadir di dalam pikiranku. Seminggu sudah aku mencoba untuk melupakan semua, namun hati yang tergores tidak bisa secepat itu disembuhkan. Bagaimana bisa aku menangis sedangkan seharusnya aku tertawa akan kebodohanku. Kebodohan yang meyakinkan bahwa dirinya lebih baik dari laki-laki yang pernah singgah di hatiku. Laki-laki yang meyakinkan bahwa dirinya sanggup membuatku kembali tersenyum dan melupakan masa lalu.

Perlu kuketahui kalau tujuan kita berhubungan dari awal adalah karna ia hanya menjadikanku pelampiasan. Pelampiasan akan cinta yang tak berhasil ia raih. Tapi, haruskah orang itu adalah sahabatku sendiri? Sulit sekali membayangkan bagaimana aku harus menahan perih. Seharusnya sejak awal aku menjaga diri. Menjaga hatiku yang menolak untuk terbuka dan membiarkan siapapun masuk. Tapi sepertinya, hatiku kembali memilih jalan yang salah.

Aku ingat saat terakhir kali ia bicara padaku. Ia pernah berjanji tidak akan meninggalkanku. Mengisi semua hari-hari indahku dengan terus menggenggam erat tanganku. Mengatakan bahwa aku tidak akan lagi mendapatkan situasi buruk,yang membuatku begitu bersedih karna melihat mantan pacarku, berselingkuh.

Aku ingin sekali tertawa sekarang. Bodoh sekali mengingat betapa mudahnya aku terbuai dan menuruti semua perkataannya.

“Mila!” Aku menghentikan langkahku dan menoleh. Tubuhku membeku saat kulihat Jeni, melangkah mendekat. Satu-satunya, selain Vina gadis yang Vico pilih, sahabat yang kubutuhkan saat ini. Sudah seminggu ini aku butuh kehadiran Jeni. Andai saja ia tidak pergi keluar kota, mungkin aku sudah lebih tenang sekarang. Kupeluk Jeni dan kembali menangis. Ia membawaku masuk ke dalam mobil dan menumpahkan semua tangisanku.

Jeni tidak menuntutku untuk bercerita. Ia menunggu sampai tangisku mereda dan memberikan ruang untukku tanpa memotong sedikitpun perkataanku.

“Ya sudah. Semua sudah terjadi. Kamu tetap tidak bisa memaksakan kehendak. Ikhlaskan saja. Mungkin ini pertanda kalau Vico bukanlah laki-laki yang tepat untukmu. Lagipula, ini bisa menjadi pelajaran untuk kita, kalau janji bisa diingkari.”

“Sebenarnya, bukan Vico yang aku sesali. Tapi kenapa harus Vina, sahabatku sendiri. Kamu tahu aku dan Vina adalah sahabat karib sejak kami masuk SMA. Tapi kenapa harus dia yang Vico inginkan?” Jeni menarik kepalaku untuk bersandar pada dadanya dan mengusap lembut rambutku.

“Sssttt…Kita juga tidak bisa menyalahkan Vina kalau dia juga mencintai Vico. Kesalahannya adalah dia tidak mengatakan padamu dari awal. Sebelum kamu bersama Vico, seharusnya dia sudah mengatakan padamu kalau dia mencintainya. Tapi, bagaimana juga semuanya telah terjadi.” Aku mengangguk. Sudah lebih tenang rasanya saat mendengar semua pendapat Jeni. Baiklah, jika Vina memang mengkhianatiku. Tapi kuharap, Jeni juga tidak akan melakukan hal yang sama padaku. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana jika memang itu terjadi.

Keesokan harinya, aku bertemu dengan Vina. Gadis itu terlihat berseri, meskipun setelah melihatku wajahnya menjadi bersalah. Aku mencoba sebisa mungkin terlihat biasa di hadapannya. Maka, kulemparkan senyum yang biasa kugunakan untuk menyapa mahasiswa lain. Mungkin hanya perasaanku saja atau memang ia yang sedang tidak ingin bertegur sapa padaku, hanya berlalu dan hilang di tikungan lorong. Aku hanya mengangkat bahu dan kembali berjalan.

Satu hal lagi yang ingin sekali kuhindari. Vico bersama beberapa temannya. Sepertinya teman-temannya tahu apa yang terjadi padaku dan dia karna yang kudengar, “Vic, mantan kamu tuh. Nggak disapa?”

Lain dengan Vina yang sedikit kumaafkan karna ia adalah sahabatku, Vico benar-benar sudah membuat kesabaranku habis. Aku masih tidak bisa memaafkannya dan semua pengkhianatannya. Aku berjalan tanpa menghiraukan keberadaannya. Sesuatu yang membuatku harus menekan perasaanku karna perih masih saja mampir.

Aku kembali meyakinkan diriku, bahwa semuanya akan baik-baik saja. Sakit yang kurasakan tidak akan bertahan lama sampai suatu hari nanti, aku sanggup melupakan Vico dan semua pengkhianatannya.

Untuk sekarang, biarlah seperti ini. Dia dan Rahasiamu sanggup membuat hatiku, pecah kedua kalinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s